Thursday, June 25, 2009

Sedih menjadi minoritas di Indonesia

SEORANG anak gadis berdiri di depan kelasnya di Amerika Serikat. Setengah berteriak dia bicara tentang isu yang sangat sensitif di sana, ”terorisme dan jihad”. Dengan air mata yang mengucur deras perempuan itu bicara bahwa dia mengerti mengapa ada orang-orang ”gila” yang mau mati meledakkan pesawat ke gedung pencakar langit di New York tahun 2001 lalu. Dia bilang: kita semua akhirnya sadar bahwa mereka juga bisa bersuara. Suara mereka sampai ke seluruh dunia; ”Hanya dengan cara itulah mereka bisa berbicara”. Ini adalah potongan adegan film ”Crossing Over” yang dibintangi Harrison Ford yang saya tonton beberapa hari lalu. Filmnya sangat kuat, kritis, dan mengejutkan. Saya merekomendasikan siapapun untuk menontonnya.

Hari Rabu lalu ditemukan selebaran di tempat kampanye kubu Pak Yusuf Kalla-Wiranto di Medan. Isinya menerangkan bahwa Ibu Herawati Boediono seorang Katholik, tidak sama dengan suaminya. Hari ini semua pemberitaan di internet menyinggung hal ini. Ternyata isu agama/kepercayaan yang sangat sensitif seperti ini masih belum bisa diterima di negara kita. Sebagaimana dalam film tadi, di Indonesia hal-hal sensitif ini selalu dihindarkan dari pembicaraan publik. Tidak nyaman, dan pasti berujung dengan ketidakenakan satu sama lain.

Sebagai anak bangsa yang dibesarkan dalam lingkungan dan nilai Kristen, tetapi tumbuh dan berkembang dewasa dalam lingkungan multiagama, saya sangat sedih, kecewa, dan marah. Tidak tahu mau marah ke mana, ke siapa; yang pasti marah. Mengapa bangsa kita belum dewasa juga? Mengapa kita tidak belajar? Apa salahnya ada istri pejabat negara kita tidak beragama mayoritas? Menjadi Kristen atau Hindu kayaknya seperti mempunyai AIDS di negeri ini. Dijauhi, dan dianggap bukan bagian dari masyarakat ”pada umumnya”.

Satu hal saya belajar dari film Crossing Over tadi: kita tidak bisa memilih harus lahir sebagai apa dan dimana. Kita tidak bisa menolak lahir sebagai orang Korea atau Israel, Batak atau Ambon, Hindu atau Sikh, hitam atau kuning, keriting atau pirang, setengah kaya atau miskin melarat. Tidak bisa. Tidak ada ampun. Tidak bisa. Kita harus menerimanya sebagai anugerah.

Selama saya hidup di negeri ini, saya belajar menikmati betapa sakitnya menjadi Kristen di tengah komunitas lain. Saya belajar dihina dan direndahkan karena berbeda. Harus menerima bahwa di dalam lingkungan mayoritas saya tidak boleh terlalu maju, berkembang, kritis, apalagi jadi pemimpin. Saya harus menerima bahwa dengan KTP Kristen saya, tidak mungkin diterima sebagai pengajar resmi. Tidak mungkin menerima hak-hak lainnya. Ternyata memang kita tidak bisa memilih lahir dimana dan dengan status apa. Seandainya saya lahir di Stockholm 27 tahun lalu, barangkali akan berbeda, atau setidaknya di Singapura saja, tidak usah jauh-jauh ke Eropa sana.

Setiap hari saya harus melihat betapa mereka yang tidak bisa beribadah di gedung gereja yang bagus harus berdesak-desakan bergiliran beribadah dalam ruko-ruko (atau mall) tanpa izin jelas. Gereja harus menyuap pejabat, keamanan dan pria berseragam tiap minggu supaya aman. Tidak ada izin sampai 100 tahun lagi pun. Jangan-jangan ini juga terjadi bagian lain Indonesia. Masyarakat Islam di pedalaman Tapanuli Utara, saya tidak tahu, yang pasti ini masih saja terjadi.

Kebencian luar biasa antar dua agama besar Indonesia ini mengalir deras lusinan tahun sampai hari ini. Generasi yang lebih muda yang lebih liberal secara budaya ternyata masih menyimpan ke”anti”-an yang sama kuatnya seperti kakek neneknya. Kita tidak bisa menerima ada kandidiat gubernur, bupati, presiden, wakil presiden yang agamanya berbeda dari kita. Isi KTP yang berbeda ternyata menolak kita memilih seseorang daripada idenya tentang pembangunan. Bila kita mendengar ada calon gubernur yang anaknya kawin dengan agama lain, kita langsung cerita sama tetangga lain: ”eh, jangan pilih dia. Ternyata dia berbeda”.

Seingat saya keadilan tidak punya marga, tidak punya agama. Kejahteraan dan adil makmur tidak punya akses apapun, tidak punya warna kulit, tidak punya suku. Seingat saya kejujuran dan kerja keras itu tidak punya mata sipit, tidak punya nenek Belanda, tidak minum tuak, tidak pakai kerudung, dan tidak kemana-mana hari Jumat atau Minggu, tidak pernah puasa. Kalau ada pemimpin bangsa yang adil, berjanji memberi sejahtera dan adil makmur, jujur dan pekerja keras saya akan pilih dia, walaupun dia ternyata perempuan kurus bermata sipit, agamanya Ahmdiyah, lahir di Nagan Raya, dan bersuamikan pria Batak yang Islam dan lahir di Wonosari. Saya tak peduli. Saya akan pilih dia, mau jadi presiden, bupati, atau Cuma menteri dalam negeri. Saya akan angkat tangan saya, dan berjanji mendukung dia.

Di dalam dunia angan-angan saya tentang Indonesia saya melihat bangsa kita yang agak berbeda. Barangkali 50 tahun lagi saya tak tahu. Saya melihat seorang wakil presiden yang Kristen, menteri perdagangan yang Hindu, menteri luar negeri yang Ahmadiyah, gubernur (salah satu provinsi di) Kalimantan perempuan yang lahir di Nabire dan keriting. Mohon maaf kalau mimpi saya terlalu keras, bodoh, dan kampungan. Mohon maaf kalau mimpi ini lebih ganas daripada cuma istri seorang calon wakil presiden Muslim yang (sayangnya) Katholik.






No comments:

Blog Archive