Monday, October 06, 2008

Laskar Pelangi: Menggetarkan Jiwa




John Franky Audermansenn Sinaga

Seminggu lalu saya menghabiskan waktu menonton film yang kata orang: BAGUS. Saya sudah membaca novelnya dan terharu luar biasa. Dengan barisan kata dan kalimat yang membuat bibir tersenyum sanggup menyampaikan pesan yang dalam. Mas Andrea Hirata sukses membuat saya dan banyak orang Indonesia terbawa ceritanya sendiri. Semua orang yang jadi fans novel ini pasti dag dig dug menanti filmnya dibuat lalu diputar. Termasuk saya.

Keponakan saya menelopon malam-malam benar. Isinya: Tulang, besok jangan lupa kita nonton Laskar Pelangi, ya di bioskop!. Saya harap harap cemas. Soalnya sudah berapa kali saya membaca novel atau buku yang begitu bagus ternyata jeblok di film. Filmnya gak sesuai harapan. Andaikata makan salak, yang termakan justru yang asam. Tetapi memang sesuai dugaan saya, walaupun memang ada detail cerita yang tidak masuk dalam film. Film Laskar Pelangi saya tonton 2 kali. Pertama kali dengan ponakan-ponakan, kedua kalinya dengan teman dekat saya. Film yang dibuka dengan narasi Ikal (Lukman Sardi) membawa kita ke dalam cerita yang dari awal sampai akhirnya sangat menggetarkan jiwa. Hangat dan realistis. Film ini memang benar seperti yang dikatakan banyak orang yang sudah menontonnya: BAGUS!!.

Entah berapa lama Riri Riza menghabiskan waktu mencari lalu mengajak kemudian melatih anak-anak luar biasa itu berakting. Sungguh mengagumkan bagaimana satu dan lainnya, masing-masing anak-anak itu memainkan peran dengan sangat manis, menyentuh, dan berkesan. Ikal, Lintang, dan Mahar memang luar biasa dimainkan oleh anak-anak kecil Belitong yang lincah, kreatif, dan dibesarkan oleh “alam”. Alam yang keras di Belitong, dan kehidupan yang keras juga adalah tontonan yang jarang kita lihat di televisi Indonesia sejak lama. Tahunan bahkan. Film ini membawa saya ke dalam nuansa yang serba kompleks, membuat saya kembali kecil, terlempar ke masa lalu, masa depan, melihat diri sendiri, anak-anak Indonesia, dan masa depan bangsa. Sungguh kisah nyata yang menggugah.


Guru yang benar-benar guru

Saya pernah mengajar, anak-anak SMP sampai bangku kuliahan. Beberapa tahun, dan ratusan siswa saya sampai sekarang, tapi melihat film ini, saya tidak berani menyebut diri saya “guru”. Saya malu. Melihat Pak Harfan dan Bu Muslimah benar-benar membuat saya menangis di dalam hati. Yang pernah saya berikan bukan apa-apanya dari yang mereka sudah kerjakan. Sepertiganya pun belum. Saya yakin masih ada puluhan bahkan ratusan guru yang seperti mereka ini. Mereka bekerja dengan gaji yang kecil, ditambah beras dari dermawan, dan sering telat. Sekolah Islam yang sederhana tetapi menggetarkan hati banyak orang. Kita harus bangga, masih ada orang Indonesia yang kayak mereka walaupun tinggal di tempat yang jauh dari pusat keramaian. Jauh dari pusat bumi, dimana orang-orang kaya dan terkenal, canggih dan maju tinggal dan hidup .

Dari sini, nyata jelas betapa guru itu pekerjaan yang mulia, dan pendidikan itu penting, jantung dari kemajuan bangsa, dan harus didukung semua orang. Menjadi guru bukan pekerjaan karena menganggur, tetapi cita-cita mulia, pekerjaan mereka punya kesamaan dengan malaikat. Cuma malaikat utusan langsung Tuhan, bekerja karena melayani Tuhan, dan guru melayani hati nurani. Nurani yang diisi nilai-nilai iman, dimana Tuhan menjadi apinya. Negara kita juga sudah berjanji akan memberikan insentif untuk para guru. Tapi perlu diingat. Guru di sekolah-sekolah non negeri, atau mereka yang bukan pegawai negeri, justru yang paling susah. Pak Harfan dan Bu Mus sudah menjadi contoh.


Alam jadi guru

Bagi mereka yang dibesarkan di kota besar seperti saya, melihat buaya melintang di tengah jalan atau belajar langsung ke alam di pinggir pantai ditemani ibu guru, tidak pernah terpikir, apalagi kejadian. Menjadi satu-satunya anak laki-laki dalam keluarga miskin tanpa ibu, seperti Lintang, juga belum pernah saya alami. Banyak anak kecil usia sekolah seperti Lintang yang memang harus membantu orangtuanya, bukan karena disuruh bekerja, tetapi sayang dan bentuk tanggung jawab yang teramat sangat terhadap adik-adiknya, keluarganya. Mereka—Lintang salah satunya—“diwajibkan” oleh alam menjadi kepala keluarga “terpaksa” sepeninggal ayahnya. Anak usia 11-12 tahun menjadi kepala keluarga, coba bayangkan!. Oleh keadaan di luar kemampuannya, anak ini harus tidak bisa sekolah. Kalau dia tidak bekerja, keluarganya mati kelaparan.

Pemandangan pantai dan alam Belitong juga menjadi pelajaran tersendiri. Untuk mempersiapkan pertunjukan yang “semi-telanjang”, Mahar mengambil langsung dari alam bahan-bahan kostum tim tari mereka. Anak-anak ini mengambil sendiri apa yang ada di alam untuk pertunjukan mereka. Alam bukan hanya indah ketika dipandang, tetapi benar-benar penopang kehidupan. Saya kira bukan hanya sekali ini anak-anak itu disana memanfaatkan alam. Anak-anak kota, apalagi sekarang, semuanya tersedia dalam bentuk citra virtual. Pelangi, kunang-kunang, dan ikan hanya dalam gambar. Semu. Anak-anak kota tahu cokelat, tapi saya yakin tak banyak yang pernah melihat pohon cokelat (cacao). Anak-anak kita semakin jauh dari alam. Sehingga tidak peka dengan alam yang menjerit kalau kita sudah keterlaluan menekan mereka.


Film anak-anak terbaik yang pernah ada

Sampai saya usia 20-an sekarang, saya yang lahir di awal tahun 1980-an, dan doyan benar nonton—apapun filmnya—belum pernah melihat film Indonesia dengan aktor dominan anak-anak seserius ini penggarapannya, skenarionya, sinematografinya, editingnya, sound-nya semuanya. Film Denias dulu, juga bagus, tetapi harus diakui, film Laskar Pelangi ini jauh lebih baik. Menginspirasi sampai ke sisi-sisi di luar film itu sendiri. Anak-anak Indonesia harus diajak melihat film ini karena:

  1. karakter yang asli, bukan rekayasa, bisa memberikan gambaran keadaan di Indonesia bagian lain, utamanya mereka yang belum seberuntung anak-anak di kota (walaupun film ini tahun 1970-an akhir)
  2. nilai-nilai di sekolahnya yang diberikan guru itu penting, tapi ada yang jauh lebih penting, yakni Tuhan, hati nurani, dan kemanusiaan.
  3. anak-anak yang menghormati orangtua, menghargai pendidikan, mencintai persaudaraan dan menghargai perbedaan, menghargai budaya anak Indonesia yang lain. Anak Belitong belajar tarian suku Asmat, Papua, adalah hal yang sangat jarang.
  4. mengajarkan anak-anak betapa film ini mengajarkan bahwa sekolah itu penting. Sekolah mengubah cara pandang, memberi harapan dan cita-cita bagi mereka yang hampir tak punya harapan. Pendidikan yang baik memberi hidup.
  5. memberikan inspirasi bagi anak-anak bahwa siapapun mereka, darimana pun berasal, mereka memiliki hak 100% untuk pendidikan dari Negara.
  6. kita bisa belajar dari macam-macam sumber, di macam-macam tempat, dari macam-macam pengalaman
  7. tidak semua yang kita impikan dan harapkan bisa kesampaian. Tidak semua cita-cita baik bisa berakhir baik. Semua jalan hidup setiap orang berbeda.
  8. hidup itu indah. Menghabiskannya dengan sesuatu yang baik dan mulia di kala kita masih hidup adalah satu hal yang penting. Pak Harfan dan Bu Mus sudah menunjukkannya.

Penulis adalah pencinta dan pengagum film

Pekerja pembangunan sosial di Aceh

2 comments:

trifena wulan djandam said...

John! Aku setuju bgt. Emang kadang sesuatu yg ga diharepin (underdog), ternyata sangatlah memukau. Dan aku pun dapatkan di film ini yg awalnya tidak terbayang sebagus ini. Bravo lah!

budikurniawans said...

bandingkan dengan "Kutunggu Jandamu"

Bang John, sudah lama tak bersua,,apa kabar?

Blog Archive