Wednesday, April 15, 2009

“Jangan lupa yah, pilih tulang P untuk DPD”


Mau nyontreng cepat-cepat, malah kesiangan

Dengan setengah bergesa-gesa aku minta jadwal cuti hari rabu, tanggal 8 April lalu beberapa hari sebelumnya dari kantor. Satu hal di kepalaku, bagaimana sampai di Medan dengan selamat, ambil satu hari jalan keliling kota, lihat siapa yang akan dipilih besok pas pencontrengan. Tidak ada yang lain. Sampai di medan, bergegas jalan-jalan. Keliling kota 2 jam, lihat kanan lihat kiri, ternyata sudah terlambat. Tidak ada sebatang pohon pun yang masih ada foto calegnya. Tidak ada selebaran yang ditempelkan sembarang tempat dengan lem super lengket. Semuanya hilang. Hilanglah juga kesempatanku untuk memburu siapa yang akan kupilih besok. Jujur, aku tak pernah merasa seaneh ini kalau mau pemilu. Sudah pernah 2 kali memilih, dan kata orang pemilu ketiga ini akan jadi yang paling seru. Soalnya sistemnya sangat berbeda. Orang-orang ajaib yang entah muncul darimana akan bersaing jadi jalon legislator. Calon pembuat peraturan, pengawas, sekaligus pendengar aspirasi rakyat. Kalau memang benar.


Kampanye di rumah, kampanye di TPS

Tibalah harinya pemilihan umum. Karena kami satu rumah memang agak malas, tidak ada yang mau cepat-cepat ke TPS. Apalagi aku. Aku berharap dengan menonton TV sejam dua jam, melihat bagaimana masyarakat menoyontreng, melihat bagaimana orang bergegas ke TPS dan seterusnya akan memberi semangat yang lain. Mau tahu aja, apa Pak SBY nyontreng pagi-pagi atau siangan. Bagaimana keadaan di Papua yang terlebih dahulu nyontreng. Eh, ternyata memang benar, aku jadi tambah semangat. Setelah makan dan berdandan ala koboi, akhirnya rame-rama kami ke TPS. Aku, bapak, mama. Malam sebelumnya, aku ”ditatar” dulu sama mamaku. ”Jangan sampai lupa, ya. Tulang ini kau pilih. Dia sudah ngasi ini itu ini untuk gereja. Untuk orang miskin. Untung suku kita. Jangan lupa juga, kalau untuk DPD, pilih tulang P ini. Dia itu yang kemarin nelpon selamat ulang tahun. Kalian kan udah sering ketemu”. Itu kalimat sakti mamaku. Kepalaku penuh dengan nama, nomor urut, nomor partai, bayangan muka manusia-manusia yang ”harus” kupilih.

Setelah jalan setengah jam, sampai jugalah kami di lokasi ”pembantaian”. Hilir mudik tukang becak, pedagang rokok, eskrim, sesekali ibu-ibu mencari anaknya, bapak-bapak mencari istrinya, hansip, polisi yang tidak tahu harus ngapain kesana kemari. Di lokasi sekolah yang kamar-kamarnya dijadikan bilik TPS penuh sesak. Satu kompleks SD INPRES itu benar-benar ramai. Delapan TPS kanan kiri muka belakang. Tak ada yang kosong. Segala aroma: asem kecut, bau kecap, bau ikan, jempol kaki, baju baru pake, bau karet sendal jepit tercium selama 1 jam kami berada disana. Sambil berdiri menunggu antrian, kulihat ada 3 ibu usia 65-70 tahunan dengan kacamata super tebal berdiskusi. ”Kalau yang ini, aku pernah dikasih kaos, yang itu anaknya Haji ”M”. Kalau kata anakku, si Bismi ini dekat sama gubernur. Dia ajalah kita pilih”, kata mereka berdiskusi. Tampil pula seorang ibu, berbatik (entah kenapa dia harus berbatik rapi kesini), mendekati 3 orang ibu tadi. ”Yang mana Ibu pilih? O....jangan dia, bu? Pak Hasmi aja. Tau gak yang kemarin bagiin sembako? Dia itu orangnya. Dia anak kepala SMP disana itu loh. Dia ajalah kita pilih untuk kabupaten”. Ibu itu rupanya tukang kampanye telat dari Pak Hasmi. Gak tau istrinya atau siapanya. Yang pasti bukan 3 perempuan tadi saja ”korbannya”. Hansip dan petugas PPS yang ada disana melongo aja. Gak ada komentar.

Lain di luar, lain di dalam. Setelah masuk bilik SD INPRES ini, yang disulap jadi TPS. Kami disilakan duduk lagi. Ngantri lagi. Orang-orang muda, kayaknya baru masuk kuliah bisa membuka kertas suara dengan cepat, isi dengan cepat, lipat lagi sama cepatnya. Keluar masuk hanya 4 menit. Luar biasa. Barangkali memang sudah lihat kampanye di TV ratusan kali, jadi hanya lihat, langsung bisa. Beda dengan aku, tak usah ditanya betapa kagetnya aku melihat kertas segitu besar. Empat biji pula. Kubuka satu. Panjangnya sampai ke lutut dari kepalaku diukur. Ya ampun. Pantaslah pohon habis semua. Mencetak kertas kayak begini miliaran lembar apa gak habis hutan semua. Ya udah, patriotisme diuji. Ada yang lebih penting dari duit dan hutan. Politik dan demokrasi kayaknya harus mahal di Indonesia. Wah, ini terlalu maju. Mundur dulu sebentar.


Semua pilihan ditentukan 5 menit sebelum memilih

Pas di luar tadi, sebelum masuk bilik SD, setelah mendengarkan khotbah ibu tadi tentang pak Hasmi, saya keliling dengan mama. Diajak ke kanan, ke kiri. Bapak ku gak tau ada dimana. Kami ke foto-foto dalam kertas semua caleg ini. Wah, ternyata mama kaget karena ada nama yang dia kenal, dan mencalonkan diri disitu. Sekarang baru dia tahu. Semua yang kami bahas tadi malam, buyar. Semua jago kami harus diganti. Karena aku tak kenal satu manusia pun yang maju. Tak tau visi misinya apaan. Aku harus ikut mamaku. Sayup-sayup kuingat tokoh yang dia sebut untuk kami pilih. Dicari hubungan perkerabatan terdekat dan jasa terbesar utama dia supaya aku pilih. Pertanyaanku Cuma satu: jangan sampai milih orang yang sudah jadi anggota dewan, tapi belum pernah kelihatan ngerjain apa-apa. Kita harus memilih yang terbukti bagus, atau yang belum sama sekali. Jangan norak, jangan kebanyakan gelar. Nah, semuanya ada pada 4 orang yang disebut mamaku. Manusia-manusia inilah yang akhirnya aku coblos, eh salah, contreng.
Ternyata, apapun katanya, kalau kita gak ada persiapan, yang kita akan pilih itu adalah yang terakhir kali kita ingat. Kalau kita ingat Pak SBY pernah salam kita 5 detik sebelum coblos, pasti kita akan pilih dia, atau partainya. Kalau kita ingat bandit yang menghabisi keluarga kita lewat sedetik lalu di muka kita, kita pasti akan pilih dia. Untuk dihabisi maksudnya. Kita akan selalu cari alasan, pembenaran, dan mengerahkan semua kekuatan untuk membela apa yang kita rasa paling cocok dengan kita pas beberapa detik sebelum kita ambil keputusan. Apalagi kalau kita tidak ada prinsip. Tidak mau ambil pusing. Kita akan membandingkan mereka yang menjadi kandidat dengan diri kita. Apakah agamanya sama, sukunya bagaimana?, pernah sekolah di sekolahku?, darimana dia lahir?. Jangan-jangan semua orang kayak saya ini. Milih orang cuman karena dekat. Dekatnya pun karena dibuat-buat, dicari-cari, dicocok-cocokkan. Bukan karena tau benar dia siapa, jualannya apa? Visioner tidak? Kalau anda tidak begitu, beruntung.....








2 comments:

Vicky Laurentina said...

Mau milih aja kok susah bener? Kayak saya dong..contreng aja semuanya.. Hahaha!

*sesat*

:: Lia :: said...

Baru buka blog mu setelah sekian lama bang...aku nge'link yah....(padahal udah duluan aja nge'link nya)

Blog Archive